Langsung ke konten utama

Postingan

Kembali Bersyukur

Melihat banyak postingan teman-teman di media sosial tentang liburan yg bikin mupeng. Keinginan untuk melakukan hal yg sama sudah membuncah sejak lama, apalagi begitu masuk ke dunia kerja. Ada rasa ingin, tapi gue pun sadar bahwasannya untuk tahun ini, keinginan gue belum bisa diwujudkan karena belum punya cukup waktu yg “PAS”. Butuh waktu untuk menerimanya, hingga akhirnya hari ini Tuhan seakan menyadarkan gue untuk bersyukur dan tidak mengeluh. Secara tiba-tiba, gue teringat sebuah  quotes , “Count your blessings, not your problems”. Gue berpikir dan mencoba untuk flashback dari awal hingga hari ini. Gue buka galeri foto dan sosial media. Gue pun tersenyum. Gue melihat banyak hal indah yg terjadi sepanjang tahun. Dan seperti pesan dari salah seorang teman gue supaya gue selalu memandang positif akan segala hal, gue mencoba merangkum hal-hal indah yg terjadi sepanjang tahun ini beserta hal positif didalamnya. Tujuannya bermaksud sebagai  self reminder...

Berdamai Dengan Diri Sendiri

Damai itu indah, slogan yg sering banget gua inget dan bakal selalu gua inget.  Untuk berdamai dengan diri sendiri harus diri kita sendiri yg nyiptain gimana caranya. Gua pribadi sih ngelakuinnya dengan bersyukur, memberikan diri hadiah dan tentunya introspeksi diri adalah hal yg utama. Mencintai diri sendiri emang seharusnya dilakukan, kalau bukan diri kita sendiri yg mencintai, siapa lagi? Hiks.. Damai adalah, dimana perasaan gua tenang, tentram dan bisa menerima kenyataan serta keadaan hidup. Menjadi Manusia Baru  Ngga ada manusia yg ngga punya masalah dan kesalahan. Gua yakin bukan cuma gua yg punya masalah dan pernah ngelakuin kesalahan. Tapi, bukan berarti kita ngga bisa menghapus kesalahan dan menyelesaikan masalah. Pernah, gua punya masalah yg menurut gua terjadi karena kesalahan yg pernah gua lakuin. Nangis, kesel dan mencak - mencak sama diri sendiri pernah gua lakuin. Tapi, seketika nangis ilang dan kesel serta mencak - menca...

Kita dan Semuaku

Percakapan kita itu menakjubkan. Kalimat-kalimat bagus bertebaran. Surat-surat manis berserakan. Tanya-tanya mesra berhamburan. Penuh kata-kata. Penuh warna. Kita bercanda, bertukar pikiran, berbagi cerita, berdebat dan bersitegang, itu menakjubkan. Kita itu berbagai rasa. Ada hangat yang tak mampu dijelaskan api. Ada sejuk yang tak berasal dari angin. Ada arus yang tak sama dengan di sungai. Ada dunia yang bukan dunia ini. Kita itu indah yang campur aduk. Semerawut seperti ibukota. Aneh seperti angkasa. Entah mengapa. Entah bagaimana. Pinta dan asa yang mengisi. Seni dan doa yang menguatkan. Kita itu unik seperti karya yang rumit, seperti bahagia yang sederhana. Bertujuan, berketidak-pastian. Berketanyaan, berkerelaan. Bergemerlapan, beriman, seiman. Kita. Sesekali aku bingung memandangi kita. Dua kepala yang sama keras. Dua hati yang sama rasa. Dua masalah yang sama berat. Satu cinta. Satu dunia. Satu cerita. Banyak nama. Banyak pribadi. Banyak p...

Kamu Sudah Lebih Dari Cukup

Dengan seluruh kekaguman, surat ini aku kirimkan. Kamu cukup tersenyum dan semudah itu aku jatuh terkagum-kagum. Kamu tak perlu menjadi pria kekar yang ada di drama-drama televisi, sesederhana itu sudah memikatku dengan ketulusan hati. Kamu memang tidak memiliki banyak seperti yang dunia unggulkan, tapi justru itu yang membuat kepadamu aku menetapkan pilihan. Kamu berbeda dan menerimaku apa adanya. Bersamamu, aku tidak perlu menjadi orang lain. Kamu tak perlu menjadi pahlawan-pahlawan yang diidolakan oleh seisi dunia, karena kamu memiliki kekuatan khusus di mataku. Kekuatan untuk membuatku tersenyum disaat tak ada satupun yang mampu mengusir sedihku. Terlalu magis. Terlalu sederhana. Namun aku suka. Sesederhana kamu hadir, segala kuatirku pun terusir. Dari caramu melihat dunia, dari caramu menatap realita, dari caramu menyebarkan cinta, dari caramu menggantungkan mimpi, dari cara kerja pikirmu dan dari caramu mencintaiku. Aku sungguh jatuh cinta. Kamu tak pernah berjanji, tapi s...

Tidak yg Lain Tetapi Kau

Terkadang, kamu menyebalkan. Pernah ada saatnya aku tidak menyukai model rambutmu, warna sepatumu, atau bahkan caramu memotongku bicara. Tetapi itulah kau, warna-warna yang kuingin ada di hidupku. Aku tertawa sendiri bila mengingat, pernah ada kalanya aku ingin melemparmu ke jurang andai nyawamu lebih dari satu, tetapi kembali lagi dan kembali lagi, pada akhirnya bola matamu ialah jurang yang kepadanya aku rela jatuh, dan aku tersiksa sendiri jika tidak kepadamu aku perhatian. Sayang, perhatikanlah apa yang kukatakan kali ini kepadamu, yaitu bahwa bagiku kebahagiaan yang sempurna ialah lebih dari sekadar gempita demi gempita, melainkan kebersamaan kita, sekalipun itu penderitaan. Sebab hanyalah kedukaan jika kuhabiskan hidup bersenang-senang namun tanpa kau. Berikan kekuranganmu kepadaku, aku tulus menerimanya. Aku tidak ingin hidup dalam ratapan, jangan sampai aku punya segala kecuali kau. Kini aku telah punya modal untuk tidak hanya mencerahkan wajahmu, bahkan tawamu di masa tua s...

Pertanyaan, dan Kamu

Kamu adalah sebuah cerita, yg baru saja bermula. Dan sebuah lagu, baru di bait ke satu. Kamu adalah sebuah perjalanan. Yg baru saja meninggalkan, pekarangan rumah di depan. Dengan segala peraturan dan kebosanan. Kamu adalah sebuah gangguan, bagi sederet rutinitas. Kamulah yg melembutkan, kejenuhan yg mengeras. Kamu adalah setangkai bunga yg segar, yg selalu mencari, di manakah sinar matahari memancar. Kamu sebuah awal baru yg senantiasa membuatku berpikir: Adakah kesempatan bagiku, untukmu jadi sebuah akhir? Kamu. Empat aksara yg senantiasa membuatku bertanya-tanya. Di kamu kah masa depan berada?