Langsung ke konten utama

Kepo lu ah

Heran deh hari gini masih ada aja loh, yg peduli hubungan orang. Yampun…

Siang ini sih, intinya gua kesel sama salah satu temen di media sosial. Sebenarnya bukan dia aja sih yg pertama nanyain hubungan gua sekarang dengan siapa. Gua sih, engga terganggu saat ditanya. Cuma bete aja kalau dari mulut mereka mulai usil dengan kalimat.

"Cie Vindy, cowoknya ganti lagi ya?" -> Hell, what?? Seberapa sering sih gua ganti cowok?

"Move on-nya cepet banget Vin?" -> Trus kenapa? Emang lo tau kapan gua putus? Kapan gua deket lagi sama orang lain? Trus gua harus cerita every single personal things ke mereka? Trus gua harus cerita kapan gua putus, pdkt, jadian ke mereka? Nananaa…??

Trus gua harus nerusin postingan ini? Udahan aja deh, nanti emosi lagi. Hehehee :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ini Ibu saya, alasan terbesar saya untuk tetap kuat dan bertahan, bahkan dalam situasi sesulit dan serumit ini.

Andaikan

Andaikan kerinduan dapat jaminan dari pemerintah, *karena #LDR butuh peran penting dari menteri perhubungan dan komunikasi. Andaikan menteri perhubungan mengerti kepada kita, mungkin ada potongan diskon untuk transoportasi kunjungan pacar, jadi kan kita gak perlu nabung lama lagi hanya untuk mengobati kerinduan ini. Andaikan menteri komunikasi mengerti kita, mungkin akan ada diskon dan paket jangka panjang untuk internetan, telpon dan sms pacar hingga mempermudah komunkasi kita agar tidak ada kesalah pahaman, karena paket internet, telpon dan sms memang menyedot kantong kita. Andaikan menteri komunikasi mengerti kita, mungkin kita tidak akan bergantung pada sinyal, ya percuma aja kalau udah ada paket internet, telpon dan sms murah kalau sinyal tidak mendukung. Dear menteri komunikasi.. Mengertilah kita. Kita yg dalam keterbatasan kasih sayang dengan pacar. Memang #LDR memerlukan peran pemerintah, dan ya sudah andaikan2 itu hanya akan menjadi khayalan gila kita. Kita meman...

Pertanyaan, dan Kamu

Kamu adalah sebuah cerita, yg baru saja bermula. Dan sebuah lagu, baru di bait ke satu. Kamu adalah sebuah perjalanan. Yg baru saja meninggalkan, pekarangan rumah di depan. Dengan segala peraturan dan kebosanan. Kamu adalah sebuah gangguan, bagi sederet rutinitas. Kamulah yg melembutkan, kejenuhan yg mengeras. Kamu adalah setangkai bunga yg segar, yg selalu mencari, di manakah sinar matahari memancar. Kamu sebuah awal baru yg senantiasa membuatku berpikir: Adakah kesempatan bagiku, untukmu jadi sebuah akhir? Kamu. Empat aksara yg senantiasa membuatku bertanya-tanya. Di kamu kah masa depan berada?